The Megatrend : Galau


Artwerk saya yang ini sebenarnya sudah lama dibikin, sudah pernah di aplot di facebook juga. Tapi di sini saya share lagi, lengkap dengan ceritanya.

Jadi masih di seputaran rasa bosan dan segala akibatnya.

Salah satu akibat dari rasa bosan yang berkepanjangan adalah galau. Saat galau saya jadi kacau, kacau luar biasa. Bicara saya ngawur, uring-uringan saja setiap hari, sumpek lah pokoknya. Sumpek di saya, sumpek yang ketemu saya juga. Kalau diajak bicara, kadang saya asal jawab, pendek-pendek saja. Mulut saya bicara tapi pikiran saya entah kemana. Kemana? Mencari solusi untuk keluar dari kebosanan saya.

Jadi kalau anda bertanya pada saya, lalu saya jawab pendek-pendek, mungkin saya sedang galau.

Lalu saya berkenalan dengan Efek Rumah Kaca. Duh. Makin galau.
Kalau dengar suara vokalisnya ERK, sepertinya dia sedang galau. Tapi galaunya dia menjadi karya. Tapi lagi, apa dia harus sering-sering galau biar bisa berkarya? Wah. Berat.
Oke, tapi ERK keren kok.

Sekarang kembali lagi ke kegalauan saya. Lalu saat saya galau, saya menghasilkan apa? Ya ini, cuma corat-coret begini saja. Lalu sambil berpikir keras. Saya harus keluar dari kondisi yang tidak bisa saya nikmati ini. Karena merasa stuck, saya jadi uring-uringan. Kembali lagi seperti kronologi di atas.

Lalu saya kabur ke rumah kontrakan saya di Surabaya, tempat saya biasa melakukan kegiatan-kegiatan terlarang. Di sana ada teman-teman saya, jadi kami melakukan kegiatan terlarang bersama. Sekejap saja, kami sudah larut dalam canda (hah, bahasa apa ini), lalu saya tertawa, tertawa lepas. Seperti tertiup angin Muson yang berhembus di kisaran bulan Oktober sampai April, sejuk, rasanya sejenak galau saya hilang. Saya berpikir, "Sial, ternyata saya selama ini sibuk bosan sampai lupa bercanda". Saya melupakan teman-teman saya. Ampuni saya.

Jadi obat galau buat saya itu sederhana saja : tertawa lepas bersama teman-teman saya. Tapi setelah itu saya harus kembali menyusun strategi untuk keluar dari situasi yang membosankan di dunia nyata saya sehari-hari. Karena tertawa itu cuma seperti morfin, efeknya sementara. Hanya berdampak pada fenomenanya tanpa mengatasi masalah sebenarnya.

Oke.
Jogetnya dilanjut.

Article written by AUTHOR_NAME

WRITE_ABOUT_YOURSELF

0 komentar:

Poskan Komentar