EARTH HOUR



Sekarang jamannya bergaul sadar lingkungan!!

Sekarang kalau ada isu peduli lingkungan, anak muda akan cepat tanggap, lalu menjadikannya gaya hidup. Yah, memang, it's all about trend, but it's positive!!

Tanggal 26 Maret 2011 adalah waktu untuk bumi tepat kita memijakkan kaki kita. Earth Hour. Sebuah campaign dari organisasi WWF (keterangan ada di poster). Di hari tersebut, kita diajak untuk mematikan listrik selama satu jam. Satu jam saja. Untuk kemudian menggugah kesadaran kita menggunakan listrik secara hemat di kegiatan kita sehari-hari.

Saya sendiri pun masih sangat kurang bijak dalam menggunakan energi. Namun setidaknya di sini kita akan bersama-sama belajar, belajar hemat energi, belajar bijak.

info selengkapnya : www.earthhour.wwf.or.id

Oke.
Matikan lampunya.

Jika Bosan Maka Berkaryalah

video

Saya menyampaikan kegiatan teman-teman Milisi Fotocopy yang seyogyanya akan dilaksanakan pada 1-3 April 2011 besok di AIOLA Store. Sungguh ini adalah kegiatan nyata dan bukanlah semacam prank dari tradisi impor April Fools.

Agenda lengkapnya adalah menggambar komik bersama, dilanjutkan dengan pamer karya, lalu ada workshop cukil (woodcut) dan diselingi oleh bazaar sehingga kita dapat berperilaku hedon dengan berbelanja.

Jangan gundah berlama-lama karena bosan. Siapkan hati dan pikiran, sejenak bersama-sama berkarya dan bersenang-senang di hari tersebut. Makaryo Mesin Fotocopy 24 Hours akan ditutup oleh performa dari KRRK, yakni DJ no.v.an, W.N.K.R.M, Terbujur Kaku dan Yogie Digital. Saya dengar dari kabar burung, bahkan Jerky Bastardo akan turut serta dalam versi karawkee-nya.

*Terimakasih buat DJ no.v.an karena sudah dipinjami Hypodermic untuk score video ini, dan Aditya buat video editingnya.

Oke.
Gitarnya dibanting.

Bosan


Itulah alasan kenapa saya buat blog ini. Sebenarnya rencana untuk membuat blog sudah ada sejak lama. Tapi akhirnya terabaikan karena berbagai alasan, salah satunya : malas. Tapi kali ini rasa bosan saya sudah pada puncaknya. Bosen njedhugg. Bored to the maxx. Sampai-sampai saya bosan untuk malas. Kata orang-orang tua : bosen sampek brewoken. Bosan sampai brewokan.

Seandainya saya cowok, mungkin begitu. Tapi mungkin juga tidak, karena beberapa cowok hanya tumbuh kumis saja tanpa tumbuh brewok. Dan beberapa waktu lalu saya baru tahu ternyata ada beberapa cowok yang bahkan tidak tumbuh kumis, apalagi brewokan. Bisa jadi saya adalah salah satu di antaranya (kalau saya jadi cowok).

Itu tadi tentang klasifikasi cowok berdasarkan brewoknya.

Begitu bosannya saya, sampai-sampai saya ingin mengajak seseorang berantem, atau beradu mulut, demi merasakan rush-nya. Kemarin siang saya hampir beradu argumen sia-sia perkara sepele dengan  teman SD saya via facebook. Tapi saya hentikan, mengingat teman saya sedang hamil. Semoga mereka berdua sehat-sehat saja (teman saya dan bayinya maksud saya).

Beberapa bulan ini kegiatan saya statis. Rutinitas yang kosong. Tidak ada tantangan.

Di kantor tidak ada yang bisa saya ajak debat kusir seperti hobby saya dulu. Bukan berarti saya orang yang suka cari perkara, tapi berdebat, adu argumen, adu mulut, bagi saya sama halnya seperti berdiskusi. Membuat pikiran bekerja, terasah untuk tetap tajam. Tubuh juga jadi bergairah, karena adrenalin terpompa. Parahnya, di kantor, saya hampir-hampir tidak ada kerjaan selama 3 bulan ini. Nganggur. Haish.. Saya bahkan merindukan deadline. Sesuatu yang saya benci beberapa waktu lalu.

Lama-lama saya jadi seperti hiu. Bakal mati kalau tidak beraktivitas. Mati karena timbunan asam laktat di otot-ototnya. Mati karena bosan.


Oke.
Becaknya digoes lagi.

Antara Kaastengel dan Klapertaart




Err.. Cinta-cintaan, nih? Bukan, ini tentang hubungan. Hubungan beda gender. Yang biasanya diikuti beda genre, beda pendapat, beda porsi dan sebagainya.

Menurut apresiasi kawan saya, gambar saya ini tidak rana. Tidak seimbang. Berat di bagian kiri.
Saya akui saya malas memperbaiki sketsanya, karena saya lemah dengan keseimbangan pada gambar. Tapi ada yang bilang, coretan kita mewakili kondisi diri kita. You are what you draw.

Mungkin alam bawah sadar saya berusaha menyampaikan sesuatu. Sesuatu tentang komposisi. Komposisi dalam hubungan beda gender.

Kesetaraan gender itu bukan berarti 50% laki-laki dan 50% perempuan.

Kalau yang demikian terjadi, berarti seri. Dalam suatu laga, bila terjadi kedudukan seri, biasanya menuntut untuk diadakan pertandingan ulang. Dalam pertandingan beladiri, kalau sampai akhir ronde kedudukan adalah seri, dilakukan perhitungan poin. Poin berdasarkan seberapa banyak tendangan, pukulan, bantingan dan kuncian yang anda lakukan. Akhirnya masing-masing menghitung usahanya.

Kesetaraan gender itu seperti membuat adonan kue. Kalau ingin membuat kaastengel, tuangkan tepung lebih banyak dan sedikit telur. Kalau ingin membuat klapertaart, lakukan sebaliknya.
Ada porsinya sendiri-sendiri, tergantung tujuannya.


Oke.
Martabaknya dibalik.

The Megatrend : Galau


Artwerk saya yang ini sebenarnya sudah lama dibikin, sudah pernah di aplot di facebook juga. Tapi di sini saya share lagi, lengkap dengan ceritanya.

Jadi masih di seputaran rasa bosan dan segala akibatnya.

Salah satu akibat dari rasa bosan yang berkepanjangan adalah galau. Saat galau saya jadi kacau, kacau luar biasa. Bicara saya ngawur, uring-uringan saja setiap hari, sumpek lah pokoknya. Sumpek di saya, sumpek yang ketemu saya juga. Kalau diajak bicara, kadang saya asal jawab, pendek-pendek saja. Mulut saya bicara tapi pikiran saya entah kemana. Kemana? Mencari solusi untuk keluar dari kebosanan saya.

Jadi kalau anda bertanya pada saya, lalu saya jawab pendek-pendek, mungkin saya sedang galau.

Lalu saya berkenalan dengan Efek Rumah Kaca. Duh. Makin galau.
Kalau dengar suara vokalisnya ERK, sepertinya dia sedang galau. Tapi galaunya dia menjadi karya. Tapi lagi, apa dia harus sering-sering galau biar bisa berkarya? Wah. Berat.
Oke, tapi ERK keren kok.

Sekarang kembali lagi ke kegalauan saya. Lalu saat saya galau, saya menghasilkan apa? Ya ini, cuma corat-coret begini saja. Lalu sambil berpikir keras. Saya harus keluar dari kondisi yang tidak bisa saya nikmati ini. Karena merasa stuck, saya jadi uring-uringan. Kembali lagi seperti kronologi di atas.

Lalu saya kabur ke rumah kontrakan saya di Surabaya, tempat saya biasa melakukan kegiatan-kegiatan terlarang. Di sana ada teman-teman saya, jadi kami melakukan kegiatan terlarang bersama. Sekejap saja, kami sudah larut dalam canda (hah, bahasa apa ini), lalu saya tertawa, tertawa lepas. Seperti tertiup angin Muson yang berhembus di kisaran bulan Oktober sampai April, sejuk, rasanya sejenak galau saya hilang. Saya berpikir, "Sial, ternyata saya selama ini sibuk bosan sampai lupa bercanda". Saya melupakan teman-teman saya. Ampuni saya.

Jadi obat galau buat saya itu sederhana saja : tertawa lepas bersama teman-teman saya. Tapi setelah itu saya harus kembali menyusun strategi untuk keluar dari situasi yang membosankan di dunia nyata saya sehari-hari. Karena tertawa itu cuma seperti morfin, efeknya sementara. Hanya berdampak pada fenomenanya tanpa mengatasi masalah sebenarnya.

Oke.
Jogetnya dilanjut.